Diposkan pada Catatan

Sekian

Dari sekian banyak cerita yang ada, kamulah satu-satunya yang memiliki cerita paling banyak mengisi hariku. Puisi-puisi kulabuhkan hanya untukmu seorang. Dan kusampaikan itu pada dunia, betapa aku ingin dirimu. Aku bahagia sekali selama satu tahun ini kita saling berbagi cerita. Seakan dunia memang tengah berpihak pada kita berdua, kitalah tokoh utama yang ada di dunia ini.

Impian kita rajut dengan saling menyemangati, seakan pagi memberikan senyuman paling hangat menyakinkan diri melangkah menuju jalan yang kita pilih. Seharusnya aku menyadari, bahwa dari awal jalan kita memang sudah berbeda. Tak ada lagi paksaan untuk tetap menetap. Dan seharusnya aku tidak terlalu jauh menyelami rasa. Karena nyatanya kamu tidak melakukan itu.

Kini, aku tersadar. Kita harus kembali berjalan dengan sisi yang berbeda. Meraih impian dengan cara sendiri. Tak ada lagi semangat pagi yang menghangat. Tak ada lagi bayanganmu yang meyakiniku tersenyum menatap impian. Aku harus bangkit dan meraihnya sendiri. Beginilah akhir kita, tetap saling berpesan untuk melanjutkan impian.

Maka, sekian kukatakan, terima kasih sudah hadir mengisi hariku.

Iklan
Diposkan pada Catatan

Senja Kenangan

Senja di Sabtu ini, langit mulai berlukiskan kelabu. Rintikkan hujan mulai menghunjam beberapa kota. Bahkan bau petrikor mulai menyebar ke seluruh penjuru. Aku masih di sini, menatap ribuan air menetes dari cakrawala. Menghadirkan sekelebat bayang di fikiranku. Tentang kita yang saling tersenyum, bersenda gurau bagai sepasang kekasih yang bahagia.

Saat itu adalah kencan pertama kita. Kamu tahu bagaimana perasaanku? Kamu tak pernah tahu, aku memang sering terdiam saat berada di dekatmu. Bukan karena aku tidak nyaman, melainkan aku sedang mengatur ritme jantungku yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku takut kamu mendengarnya dan membuat perasaanku semakin membuncah tak terkontrol. Apa kamu masih ingat, saat kita menunggu hujan reda? Di saat itulah aku tahu kamu diam-diam menatapku. Kamu mengira aku tak nyaman padamu karena aku memalingkan wajah. Kamu salah mengenai itu, aku begitu malu ditatap olehmu. Dan saat kamu menawarkan diri menggenggam tanganku. Aku terkejut sampai-sampai aku tak bisa berbicara. Apakah benar tidak apa-apa jika kita bergandeng tangan saat pertama kali berkencan? Aku sungguh tidak tahu harus berpikiran seperti apa saat itu. Apa aku harus menerimanya? Tapi kamu malah menurunkan tanganmu sambil tersenyum simpul, senyum yang membuatku jatuh cinta.

Kencan kita masih terkesan biasa menurutmu mungkin. Tapi bagiku kencan pertama kita ini begitu berarti hingga menjadi kenangan terindah.

Saat pulang, di saat kita memutuskan foto berdua sebagai kenang-kenangan. Kamu bertanya, “Menurutmu aku bagaimana?” Pertanyaan yang baru pertama kali kudengar dari seorang pria. Apakah kamu ingin mendengar jawabannya dariku tentangmu? Aku pun menjawab sepenuh hatiku. Hingga tanpa sadar kamu menatapku begitu dalam dan dengan berani aku melakukan hal yang sama, menatapmu seakan memberitahu bahwa aku mencintaimu.

Itu adalah kencan pertama kita. Masih kukenang dengan baik. Dan masih terlintas jelas di fikiranku. Sekarang, aku hanya menatap kenangan itu. Tanpa bisa kupastikan bahwa kenangan itu kembali terulang. Karena aku mulai menyadari ternyata akulah yang terlalu yakin bahwa kamu memang mencintaiku.
.
.
.
Depok, 5 Januari 2019

Diposkan pada Catatan

In December

Halo, Desember!!!

Tepat di 31 Desember ini, aku mau review hal-hal yang terjadi di bulan ini.

10 Desember, itu adalah kelahiranku. Tepat di tahun ini, aku berusia 22 tahun. Umur yang terbilang harus sudah bisa merangkak menuju cita-cita. Tapi nyatanya perjalanan itu tak semudah itu. Di usiaku ini aku harus menerima omelan sang ibu karena masih saja berpenghasilan lumayan kecil sehingga aku tidak mampu membayar kuliahku ataupun memberi uang bulanan ke keluarga. It’s so hard, aku adalah anak kedua yang menerima beban ini.

Tapi, ada hal yang kusyukuri. Masih ada yang berbuat baik kepadaku. Yah, meskipun aku ini terkesan galak. Ada yang memberikan sebuah buku padaku, buku yang kuinginkan. Terima kasih yang sudah memberikan buku yang kuinginkan. Aku berucap syukur, ternyata masih ada yang berbuat baik untukku.

Di bulan Desember ini, aku sudah menyelesaikan novelku. Aku gembira, setidaknya begitulah yang kurasakan. Tanpa tahu bahwa aku memang juga harus menerbitkan novel itu. Kembali lagi aku menahan, aku punya empat naskah novel yang masih ada di file laptop tapi keempat naskah itu belum ada satu pun yang bisa kuterbitkan. Sedih sekali rasanya, but aku tidak boleh bersedih di depan umum bukan? Bahkan berbagi kesedihan dengan keluargaku pun tak bisa. Aku harus bisa menanggung semuanya. Kesedihanku harus kurasakan sendiri.

Tepat di hari ini, aku menerima evaluasi di Kelas Fiksi. Aku sudah mengira hasilnya pasti tidak memuaskan. Dan memang benar kenyataannya. Karena aku menulis hanya apa adanya, aku hanya menulis tanpa menaruh perasaan yang kurasa. Bahkan aku sudah tidak produktif lagi menulis, masih pantaskah aku disebut penulis?

Di Desember ini banyak kejadian yang harus kuterima. Tak ada yang harus kukeluhkan. Aku hanya harus tampil seperti biasa. Tanpa benar-benar menunjukkan perasaanku bahwa aku tengah rapuh.

Dan untuk apa aku menulis semua ini? Aku hanya ingin menulis perasaanku tanpa drama sekali pun.

Diposkan pada Catatan

Abstrak

Tulisanmu kurang rapi, masih banyak yang perlu ditambal sana-sini. Tulisan macam apa ini? Kenapa kamu selalu curhat dengan tulisanmu? Kenapa kamu selalu galau di semua tulisanmu? Apa tidak ada genre lain yang bisa kamu tulis selain romance? Kenapa kamu malah kembali ke titik awal belajarmu? Ke mana titik peningkatanmu? Kenapa kamu melupankan peningkatanmu? Sedih sekali. Kamu telah menghilangkan gaya tulisanmu yang tengah berkembang. Dan kini kamu harus melakukannya dan belajar dengan sendirian. Benar, kamu yang salah karena kamu tidak menulis lagi sepanjang hari seperti yang kamu lakukan. Apa? Sibuk? Down? Memangnya menulis itu butuh alasan? Jangan jadikan alasanmu sebagai tameng untuk tidak menulis.

Diposkan pada Catatan

Pak Karmin Kaya Jadi-Jadian

Pak Karmin, begitulah sapaan akrab warga Desa Sukamakmur kepada si petani yang terkenal rajin dan ulet itu. Pak Karmin adalah ayah dari dua orang anak, yaitu Dio yang masih duduk di kelas tiga SD dan Rara yang masih berusia tiga tahun. Istrinya, Titi adalah seorang kembang desa di desa itu sehingga membuatnya begitu bersyukur mendapatkan istri secantik dan seramah Titi.

Kehidupan Pak Karmin tergolong sederhana. Pagi-pagi dia sudah pergi ke sawah peninggalan ayahnya sekitar 1 hektar. Istrinya sudah sedia memberikan pisang goreng dan kopi kepadanya untuk sarapan. Kedua anaknya juga ikut bangun pagi-pagi untuk membantu ibunya. Begitu saja kehidupan Pak Karmin.

Suatu ketika datanglah seorang pria berdasi berpakaian rapi dengan merk paling mahal menghampirinya di kala Pak Karmin bertani. Pria itu menawarkan sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Pak Karmin yang mendapat tawaran itu pun mulai tergiur dengan pekerjaan itu. Dia hanya disuruh menjadi pion utama dari parpol pria itu. Itu pekerjaan yang mudah bukan? Pasti nasibnya juga akan berubah, begitulah pemikiran Pak Karmin.

Enam bulan sesudahnya, Pak Karmin benar-benar berjaya. Dia menjadi terkenal di seluruh desa bukan hanya sebagai petani, tapi juga sebagai orang politik yang disegani. Dia pun tak segan-segan membantu warga yang susah, memberikan dana kepada warga yang membutuhkan, memfalitisasi kesehatan warga di desa itu, dan masih banyak lagi. Sehingga beberapa warga mulai menggadang-gadang Pak Karmin sebagai lurah selanjutnya. Mendengar hal itu, pria yang mengajaknya berpolitik begitu senang. Dia pun segera memberikan mandat kepada Pak Karmin sebagai calon lurah di partainya. Pak Karmin dengan senang menerimanya, nasibnya pasti sangat berubah.

Hari pemilihan pun tiba, Pak Karmin menang telak dan resmi menggantikan lurah sebelumnya. Semua warga bersorak-sorak dan mengarak Pak Karmin keliling desa dengan bangga.

Satu tahun berlalu, hidup Pak Karmin benar-benar berubah. Pakaiannya mulai diperhatikan, berdasi dan berjas, bermerk dengan harga yang fantastis. Pekerjaannya hanya duduk di kantornya dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja. Dia tidak lagi terjun ke lapangan melihat warga, tapi dia hanya bekerja di balik meja besarnya. Warga mulai mengeluh tak ada perubahan selama satu tahun ini. Mereka malah menjadi semakin menderita.

Sebulan kemudian, Pak Karmin ditangkap polisi atas dugaan korupsi. Rekeningnya membengkak dengan tidak wajar. Akhirnya, Pak Karmin memang mengubah nasibnya menjadi menetap di penjara.

#IniFiksi

#MaafBilaAdaKesamaanNamadanTokoh

Diposkan pada Catatan

Apa Kamu Tahu?

Apa kamu tahu aku suka malam? Karena malam selalu menghadirkan cahaya yang membuatku terpukau.

Apa kamu tahu aku suka bercanda? Candaku memang membuatmu kesal, dan kamu pun tidak menyukainya.

Apa kamu tahu aku suka buku? Karena buku adalah teman sepiku saat kamu tak ada kabar.

Apa kamu tahu semua tentangku? Tentang apa yang kusuka dan keburukanku, apa kamu tahu semuanya?

Dulu kita terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Sekarang, hanya percakapan menyapa saja.

Apa kamu tahu aku selalu menunggu hadirmu? Yang diam-diam membuatku tersenyum bahagia.

Apa kamu tahu? Aku diam-diam memilih melepasmu. Setelah kuamati, kita memang sudah berbeda arah. Jadi, aku hanya berjuang sendirian. Dan kamu entah ke mana pergi melalang buana tanpaku. Bahkan kamu tidak pernah tahu apa yang sedang dan ingin kulakukan. Karena kamu tidak memberikan aku berbicara, bahkan di saat kita bersama.

Jangan tanya apa aku baik-baik saja dengan semua ini? Karena sebercandanya aku pun tidak pernah main-main dalam cinta.

Diposkan pada Catatan

My Sweety 2

Senja mulai menjalar di cakrawala. Sinar oranyenya menyala terang menghias ketenangan siapa pun yang memandangnya. Clara mendongak, sudah lama sekali dia tidak melihat semburat oranye itu. Oranye yang paling dia rindukan akan kehangatan keluarga.

Muka Clara sudah kucal, kusam, dan terlihat sekali wajah lelahnya. Dia pun sejenak mengabaikan senja sore itu, berlalu pergi menuju rumah. Perkuliahan hari ini sudah selesai. Dan dia sangat lelah hingga rasanya ingin bersandar dengan tiang demi sejenak mengisi energi. Clara ingin sekali cepat pulang, tapi harapannya tidak semulus itu. Dia melupakan bahwa hari ini adalah weekend, sudah tentu jalan protokol menuju mal-mal pasti macet. Dan itu membuatnya harus lebih bersabar, tidak melibatkan emosinya. Dia hanya harus menikmati ketidaknyamanan itu.

Bahkan di kereta yang akan ditumpanginya, dipenuhi oleh kebanyakan orang yang menghabiskan malam minggunya di mal-mal ternama di kotanya. Clara sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya dia menikmati quality time untuk pergi ke tempat seperti itu, yang diingatnya adalah dia sudah lama tidak menikmatinya. Clara menghela napas perlahan, tidak boleh dia mengharapkan keajaiban masa lalunya yang menyenangkan terulang kembali. Dia harus menatap masa depan, entah berwarna seperti apa. Yang jelas, dia harus melihat kondisinya sekarang. Bahagia yang tertahankan.

Clara sudah berada di peron saat kereta tiba, semua orang berlarian mengejar kereta. Tapi Clara tidak ada hasrat mengejarnya, tubuhnya sudah lelah dan dia tak ingin menguras energinya. Kereta pun berhenti, saat pintu berdesing, semua orang langsung merangsek masuk. Clara mengamatinya, dia hanya menghela napas dan memilih duduk di peron. Dia ingin menunggu kereta selanjutnya, mungkin tidak sepadat ini. Sambil menunggu, Clara memasang earphone ke telinganya dan menyalakan musik di gawainya. Lagu One Ok Rock – Stand Out Fit In terdengar begitu semangat. Saat lagu itu sudah menjelang akhir, kereta selanjutnya datang. Benar dugaan Clara, kereta itu tidak padat. Segera, dia ikut merangsek masuk bersama beberapa orang yang ada di peron.

***

Tiba di rumah, Clara menemukan isi rumah yang masih berantakan seperti dia tinggal tadi pagi. Clara diam sejenak, menatap seisi rumah yang berantakan itu. Kenapa kakaknya tidak ada niatan untuk membantunya?

Dengan kesal, Clara membuka pintu kamar si kakak dan menemukan kakak sudah tidak ada. Dia pergi begitu saja? Clara menghela napas berat. Matanya memanas, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Lelah dan kesal menjadi satu, membuat emosinya memuncak.

Tak lama, si kakak datang dengan pakaian rapi. Mengabaikan Clara yang menatapnya kesal.

“Kak, abis dari mana? Kenapa enggak rapiin rumah dulu sebelum pergi?”

Si kakak melotot ke arah Clara, “Apa sih?! Yang ada tuh elu yang ngerapiin, masa gue!”

Clara tersentak, “Kenapa sih sekali aja Kakak ngertiin aku? Ke mana Kakak yang dulu menjaga dan peduli sama aku?! Aku enggak kenal sama Kakak yang sekarang!”

“Berisik!” seru si kakak sambil menutup pintu kamarnya dengan kencang.

Clara yang tengah beremosi pun menangis sejadi-jadinya. Dia berjalan perlahan menuju kamarnya. Di dalam kamar, Clara meraung-raung, rasanya hatinya begitu sakit.

*Bersambung