Diposkan pada Catatan

Pengasingan

Cerita ini adalah fiktif yang sengaja diambil dari kisah Soewardi Soerjaningrat yang diasingkan di Belanda atas tindakannya menulis “Als ik eens Nederlander was.” yang dianggap menghina Belanda.

Malam itu salju turun menyelimuti negeri Nederland, tepat kapal yang membawa ketiga serangkai dan keluarganya tiba. Mereka melangkahkan kaki menuju peraduan dalam keadaan kedinginan dan hanya berselimutkan mantel yang tidak terlalu tebal. Anak-anak mereka yang masih kecil mengeluh karena musim ekstrim yang belum pernah mereka rasakan.

“Sabar, Nak. Sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Soewardi kepada anak-anaknya sambil memberikan senyum terbaiknya.

“Seharusnya aku memberi tahu kalian kalau bulan ini sudah memasuki musim dingin. Maafkan aku kawan,” sesal Dekker menatap kedua temannya.

Tjipto tersenyum, “Tak apalah, Bung. Tak sempat pula kalau kau kirim surat kepada kami.”

Ketiga serangkai itu mengangguk takzim. Mereka diasingkan di Belanda karena ulah mereka mengkritik kolonialisme Belanda di tanah air. Tapi, mereka tidak merasa menyesal, justru mereka bahagia telah melakukan semua itu.

Di bawah butiran salju yang selalu turun, mereka bercengkerama santai seakan mengabaikan hawa dingin yang sebentar lagi membekukan mereka.

#

Sudah beberapa hari selama pengasingan, Soewardi dan keluarga mengalami kekrisisan ekonomi. Biaya hidup di Belanda ternyata jauh lebih mahal, uang tabungan dan uang dari bekal teman-teman tanah air sudah mulai menipis.

“Kang Mas, maaf makanan kita hanya ini saja,” ucap sang istri kepada Soewardi.

Soewardi menghela napas pelan, “Tak apa, Dinda. Kita memang harus menghemat karena uang kita menipis.”

Sang istri tersenyum memahami, lalu dengan sigap mengambil centong nasi dan siap menaruh setumpuk nasi ke piring suaminya.

“Kang Mas, boleh aku melamar ke sekolah anak di sini?” tanya sang istri dengan hati-hati barangkali suaminya akan merasa sakit hati.

Soewardi berhenti dari aktivitas makannya dan menatap dalam sang istri, “Tentu saja, Dinda. Itu adalah keahlianmu dan kesukaanmu. Aku akan senang melihatmu bahagia.”

“Terima kasih, Kang Mas!” seru sang istri menghambur kepelukan Soewardi seperti anak yang diberikan mainan baru.

#

Soewardi merenung di jendela kamarnya, terdiam menatap lalu lalang orang Belanda yang tengah sibuk di pagi ini. Setelah istrinya pergi memutuskan melamar ke sekolah anak pagi ini, Soewardi merenung di balik meja kecilnya.

Soewardi menulis semua gagasannya ke kertas putih dengan tinta hitam bekal dari tanah air. Dia memang diasingkan tapi pikirannya tidak bisa diasingkan.

#

Setelah sang istri diterima mengajar di sekolah anak, Soewardi kembali ke fitrahnya menjadi penulis di koran. Bukan hanya Soewardi, kedua temannya Tjipto dan Dekker pun turut andil dalam hal jurnalistik. Bahkan mereka bertiga memberikan ceramah pada pelajar Indonesia di Belanda. Mereka memberikan situasi Indonesia saat ini di bawah penjajah kolonial Belanda. Para pelajar sangat tertarik dengan informasi itu dan bersiap berjuang dari negeri Belanda.

#

Semakin lama, ketiga serangkai melejitkan namanya di Belanda, mereka membuat majalah. Namun, perjalanan mereka tidak semulus itu. Ada saja majalah dari Belanda yang melakukan penyerangan karena tidak menyukai majalah ketiga serangkai. Tapi, ketiga serangkai tetap berpendirian kuat menahan itu semua sehingga majalah yang mereka embankan masih bersinar.

Mereka bertiga memang diasingkan. Tapi pikiran, semangat, dan juang mereka tidak pernah bisa diasingkan.

#TugasRCO2Level2

#ReadingChallengeODOP

#ONEDAYONEPOST

#Cerpen

Iklan
Diposkan pada Catatan

Biografi Singkat Ki Hadjar Dewantara

Soewardi Soerjaningrat lahir pada hari Kamis Legi, tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Soewardi Soerjaningrat adalah keturunan bangsawan Paku Alam III.

Pada 6 September 1912, Soewardi Soerjaningrat masuk menjadi anggota “Indische Partij” bersama Dr. E. F. E. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.

Soewardi Soerjaningrat menentang keras perayaan ulang tahun Belanda yang mengharuskan rakyat Indonesia dimintai dana dan turut hadir dalam perayaan tersebut. Baginya, itu adalah semacam penghinaan karena posisi rakyat Indonesia adalah sebagai orang yang dijajah tapi disuruh untuk ikut hadir perayaan ulang tahun penjajahnya. Soewardi Soerjaningrat menulis risalah “Als ik eens Nederlander was” (Andai aku seorang Belanda) yang setelah diterbitkan mendapat apresiasi dari rakyat. Kemudian dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menulis “Kracht of Vrees?” (Kekuatan atau Ketakutan) sebagai menentang Belanda yang tengah menjatuhi hukuman ke Soewardi Soerjaningrat karena tulisannya dianggap menghina Belanda. Untuk kali kedua, Soewardi Soerjaningrat menulis “Een voor Allen, maar ook Allen voor Een” (Satu buat semua, tetapi juga semua buat satu). Dr. E. F. E. Douwes Dekker pun menulis “Onze Helden Tjipto Mangoenkoesoemo en R. M. Soewardi Soerjaningrat.” (Pahlawan-pahlawan kita Tjipto Mangoenkoesoemo dan R. M. Soewardi Soerjaningrat sebagai bentuk pujiannya kepada kedua orang itu. Karena mereka bertiga dianggap meresahkan masyarakat oleh Belanda, maka mereka pun dijatuhi hukuman penjara. Mereka bertiga memilih diasingkan di Belanda.

Pada Agustus 1920, Soewardi Soerjaningrat yang sedang menjalani hukuman penjara di Pekalongan diizinkan menjenguk istrinya yang sakit pendarahan berat karena melahirkan putra ketiga. R. Ay. Sutartinah mengingatkan atas gagasan Soewardi Soerjaningrat yang pernah disampaikan kepada K. H. Ahmad Dahlan di Semarang (1919), bahwa harus ada suatu perguruan nasional yang mendidik kader-kader perjuangan untuk menentang penjajah. Setelah mendengar itu, Soewardi Soerjaningrat bersemangat dan mendapat ilham yang akan dilakukannya saat keluar dari penjara.

Pada Senin Kliwon, 3 Juli 1922 Soewardi Soerjaningrat dkk mendirikan “Nationaal Ondeewijs Instituut Taman Siswa.” di Jl. Tanjung, Pakualaman, Yogyakarta, membuka bagian Taman Anak atau Taman Lare setingkat Taman Kanak-Kanak (Taman Indria). Pada tanggal 7 Juli 1924 mendirikan Mulo Kweekshool setingkat SMP. Pada tahun 1928 tamatan Mulo Kweekshool dapat masuk AMS (Algemene Middelbare School) setingkat SMA.

Pada 3 Februari 1928, Soewardi Soerjaningrat genap berusia 40 tahun menurut tarikh Jawa (5 windu) dan berganti nama Ki Hadjar Dewantara. Menurut Ki Utomo Darmadi, Hadjar: pendidik, Dewan: utusan, tara: tak tertandingi. Jadi, maknanya: Ki Hadjar Dewantara adalah bapak pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme.

Soewardi Soerjaningrat wafat tanggal 26 April 1959 di Padepokan Ki Hadjar Dewantara dan disemayamkan di Pendapa Agung Tamansiswa Yogyakarta.

Semua benda bersejarah, buku, surat, penghargaan, dan barang-barang perabot rumah tangga peninggalan Ki Hadjar Dewantara kini tersimpan di Museum “Dewantara Kirti Griya” Jl. Tamansiswa No. 25 Yogyakarta.

#TugasRCO1Level2

#ReadingChallengeODOP

#ONEDAYONEPOST

#BiografiSingkat

Diposkan pada Catatan

Resensi: Sabdo Cinta Angon Kasih

A. Identitas Buku

Judul: Sabdo Cinta Angon Kasih

Penulis: Sujiwo Tejo

Penerbit: PT Bentang Pustaka

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: viii + 252 hlm

B. Sinopsis

Kisah ini diawali oleh tokoh Sabdo Palon dan Budak Angon yang tengah mendongeng tentang kebudayaan pada masyarakat. Hadir pula Mbok Jamu, Ki Amongraga, dan Ong King Hong sebagai pelengkap cerita. Sabdo Palon, Budak Angon, dan Ong King Hong berebut tentang masa depan Mbok Jamu sebagai titisan siapa. Di sini banyak disuguhkan pula kritikan terhadap pemerintahan dan pola pikir masyarakat saat ini secara tidak langsung. Cerita ini lebih tepatnya kumpulan cerpen yang saling berkaitan. Cerita ini juga tidak perlu dibaca terlalu serius, karena pengarang memberikan cerita jenaka yang dikaitkan dengan kritikannya.

C. Analisis

* Konteks Sosial Pengarang

Pengarang selain menjadi penulis ternyata beliau adalah seorang dalang. Kesukaannya terhadap budaya sosial mengantarkan beliau menjadi pengamat budaya di masyarakat sekarang. Seperti yang kita tahu, budaya masyarakat sekarang banyak isu yang menjadikan polemik. Sehingga pengarang mencurahkan kritikannya melalui karya-karyanya.

*Masyarakat dalam Kehidupan Bersosial

Di cerita ini, dikisahkan beragam elemen masyarakat yang bercengkerama dengan kehidupan sosial. Kita semakin tahu dan melek bahwa kehidupan sosial di masyarakat menjadi perhatian penting dalam menjaga keharmonisan di dalam masyarakat. Jangan sampai kesalahpahaman dan salah persepsi menjadi bumerang di masyarakat.

*Masyarakat dalam Berpolitik

Hal yang paling sensitif adalah dibahasnya mengenai perpolitikan pada masa sekarang. Beragam kritikan dilontarkan melalui kisah-kisah tokoh para wayang yang ditulisnya.

*Masyarakat dalam Pemerintahan

Sindiran halus juga dituangkan dalam beberapa fenomena yang tengah viral di Indonesia. Isu-isu bahkan kejadian yang sebenarnya ditulis apik dengan sentuhan cerita yang dipautkan fenomena hal itu.

D. Evaluasi

Kekurangan:

– Terlalu banyak tokoh wayang yang banyak belum dipahami

– Membaca buku ini setidaknya harus tahu mengenai sejarah perwayangan

Kelebihan:

– Tulisan satire yang dituangkan dalam cerita jenaka

– Berbagai isu disuguhkan sehingga menambah pengetahuan dan menjadi acuan untuk cara menanggapinya

Diposkan pada Catatan

Apakah Seorang Wanita Tidak Perlu Berpendidikan Tinggi?

Belum lama ini sebuah pemikiran hadir dalam hidupku. Pemikiran yang datangnya dari tetanggaku sendiri. Pemikiran yang sudah semuanya mengetahui, bahkan di milyaran manusia, ada yang pro dan kontra mengenai ini.

Seorang wanita memang akan selalu berada di rumah, memasak di dapur, melayani suami, dan merawat anak. Sudah fitrahnya seperti itu. Lalu, kenapa fitrah wanita malah menjadi patokan untuk tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi?
Seorang wanita akan menjadi ibu, dia akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya yang sudah pasti menjadi panutan bagi si anak.

Zaman dulu, wanita kebanyakan hanya mengenyam pendidikan tertingginya sampai tamat SD, SMP, dan SMA. Bukan karena tidak ingin mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, melainkan memang tidak adanya biaya lagi untuk bersekolah. Lalu, bagaimana dengan zaman sekarang? Zaman milenium yang banyak ditandai dengan teknologi-teknologi yang mutakhir, apakah bisa seorang wanita memperkenalkan kepada anaknya segala hal di dunia ini jika tanpa berjuang mengenyam pendidikan tinggi? Jika pun ada, pasti wanita yang kini menjadi ibu adalah wanita yang mengutamakan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya. Karena bagi mereka, mengenyam pendidikan tinggi itu penting. Supaya kelak, sang anak yang akan menjadi orang tua bisa mengimbangi wawasan di dunia ini dan berbagi kepada anaknya nanti.

Lalu, masihkah seorang wanita tidak perlu berpendidikan tinggi?

#Argumen

Diposkan pada Catatan

Cara Bahagia

Kamu tahu bagaimana caranya membuat aku bahagia? Cukup kamu ajak aku atau mengirimkan foto kerlap-kerlip lampu. Sederhana memang. Tapi itu mampu membuatku bahagia.

Mungkin kamu mengira, apa istimewanya kerlap-kerlip lampu? Bagiku dia istimewa, mengendarkan setiap warna-warninya di langit gelap. Tidak peduli gelap akan memakannya, justru mereka tetap berkerlap-kerlip dengan terang. Seterang cahaya impian.

Aku pernah berpikir ingin menjadi mereka. Tak perlu takut di kegelapan. Tak perlu takut ditelan gelap. Tak perlu takut manusia mengabaikannya. Nyatanya mereka tetap bersinar menyemarakkan keindahannya di setiap mata manusia.

Aku pun tersadar, untuk apa aku menjadi mereka? Sedang aku bisa melakukannya seperti mereka. Aku bisa saja menjadi seorang gadis pemimpi. Menatap rintangan adalah penyemangatku. Berada di kegelapan aku tak perlu risau, karena aku akan bersinar. Mengendarkan cahaya mimpiku hingga orang-orang mulai menatapku. Mengakui bahwa aku adalah gadis pemimpi yang bisa mewujudkan impian.

Dan aku bahagia menjadi gadis pemimpi.

Diposkan pada Catatan

Para Pelangkah Impian

Kepada para pelangkah impian, kaki-kaki ini menopang tubuh lelah. Berjalan melangkah setapak demi setapak menuju impian. Melewati setiap rintangan yang menghadang.

Kaki ini mengikuti arah sang empunya. Tak pernah mereka protes akan ke mana. Hanya langkah pastilah yang mengiringi. Pula tak berkeluh kesah saat tengah lelah menghampiri.

Lalu, bagaimana dengan si empunya? Masihkah ia protes dan berkeluh kesah saat memantapkan impian yang akan diraih? Masihkah ia meragukan impiannya yang sudah di depan mata? Masihkah ia melelahkan setiap perjuangan?

Kepada para pelangkah impian, mereka juga ingin melangkah menuju impian bersama. Setiap langkah teriring doa. Setiap langkah teriring semangat. Suatu hari nanti sang kaki akan bangga mengantarkan sang empunya menuju impiannya setelah berjuang.

– Di Dalam Kereta Commuter Line Depok-Jatinegara –

Diposkan pada Catatan

Pertemuan dengan Hujan

Masih ingatkah di kala kita bertemu? Saat itu hujan turun tepat di sore hari, kita masih belum bertegur sapa, hanya berkenalan bertukar senyum. Di akhir acara, sebuah lagu diputar membuat semua orang ikut bergerak mengikuti irama. Aku pun turut andil bersama teman yang lain. Tertawa dan bebas ekspresi. Dan tanpa sengaja aku melihat kamu tersenyum menertawaiku. Aku yang mengabaikan tawamu masih saja bebas menari di bawah rintikan hujan.

Setahun kemudian, kita bertemu. Kali ini tidak di sebuah acara. Tapi, kitalah yang mengadakan acara. Dan aku menyebutnya sebagai kencan. Entahlah kamu menganggapnya apa. Aku masih mengingat dengan jelas, di sore hari ketika langit menorehkan kelabu, aku turun dari kereta. Ekor mataku dari kejauhan menatap kamu tengah menunggu di tempat tunggu. Dan entah kenapa saat aku bertemu kamu, jantungku berdetak begitu kencang. Kala itu lagi-lagi hujan deras menghentikan sejenak langkah kita. Kita hanya mampu menatap derasnya hujan sambil saling berbicara dan tersenyum. Dan di keramaian di stasiun seakan kita abaikan dengan canda tawa.

Saat hujan mulai mereda, kupaksa kamu berjalan di tengah rintikan hujan. Aku tahu kamu tidak suka dengan ideku. Tapi, aku ingin kamu memasuki duniaku dan terbiasa. Meskipun pada akhirnya aku tahu mukamu tertekuk menahan emosi. Dan entah kenapa kamu terlihat menggemaskan saat itu.

Apa kamu sadar? Kencan kita selalu dihiasi dengan hujan. Selalu saja hujan menemani satu hari kita. Seakan hujan menahan kita lebih lama saling merindu.

Dan kini, di hujan yang selalu mengguyur seakan membawa kenangan. Kutatap lagi stasiun yang pernah kita bertemu. Sulit sekali kenangan beranjak tentang satu hari kita yang berharga. Bahkan bersama rintikan hujan pun masih susah melenyapkan rasaku padamu.