Diposkan pada Catatan

Apakah Mimpi Akan Nyata?

Masih jelas sosokmu dalam ingatanku. Di mimpiku yang tak kutahu sebabnya, aku tengah bergandengan tangan dengan seseorang. Seseorang yang amat kukenali. Seseorang yang diam-diam membuatku nyaman berada di dekatnya. Seseorang yang bertahun-tahun masih setia menjadi teman perjalananku.

Entah kenapa kami harus bergandeng tangan dengan mesra? Seakan kami tengah saling jatuh cinta dan tak ingin berpisah. Seakan dunia harus tahu bahwa kami adalah pasangan yang bahagia.

Jelas kulihat sosokmu yang berubah menjadi dewasa dan kalem. Begitu gagah menggandeng tanganku dengan erat. Membawaku pergi ke tempat-tempat yang jarang kita pergi. Di suatu pasar kamu membawaku dengan bergandeng tangan, membeli beberapa barang yang tak kuketahui. Kamu menjadi pelindungku. Aku terpana melihatmu.

Dan di saat aku terbangun dari mimpi itu, aku terdiam mencerna kembali kisah kita yang tak biasa. Di dunia nyata kita hanya teman perjalanan. Hanya itu. Kita dekat hanya sebatas itu, bahkan kita jarang bertemu dan jarang chatting di sosial media. Bisakah mimpiku menjadi nyata? Entahlah, yang kutahu kita sama-sama tak tahu perasaan masing-masing.

#ts

Iklan
Diposkan pada Catatan

Izin Menikah?

Kala itu, aku ditinggal sendiri di rumah. Kedua orang tuaku tengah sibuk merawat kakek yang berada di Wonogiri. Pekerjaan rumah pun harus kukerjakan sendiri sehabis pulang mengajar. Rasa lelah lengkap menyelimuti tubuhku yang mungil.

Sebuah telepon masuk di gawaiku, berbunyi nyaring yang membuatku sontak melihat layar gawai. Ah, dia … apalagi sekarang?

Setelah berpikir panjang, kuangkat telepon darinya, “Ya, halo?”

Suara di seberang sana terdengar bahagia, “Tumben, biasanya enggak diangkat.”

Ah, benar juga. “Di rumah lagi enggak ada siapa-siapa. Jadi, kuangkat saja.”

Berlanjutlah obrolan kami, padahal aku sering banyak menjawab dengan singkat. Tapi dia selalu saja bisa mencari bahan obrolan. Apakah dia sudah terbiasa berbicara ngalor-ngidul dengan wanita lain?

Hingga beberapa hari ke depan, dia selalu meneleponku. Bahkan saat aku sengaja tak mengangkat teleponnya, dia selalu meneleponku hingga lebih dari 50 kali, mau tak mau aku mengangkat teleponnya meskipun tak sesering mungkin.

Di suatu malam, di saat aku ingin tidur karena rasa kantuk, tiba-tiba dia menelepon. Berbicara bahwa seharian dia baru bisa meneleponku. Aku tak peduli dengan itu, toh kami saja bukan tengah berpacaran. Dan tanpa kuduga obrolan kami menjadi serius. Dia bertanya bagaimana tentang kesiapanku menikah? Dia ingin aku menentukan tanggal untuk dia datang ke rumah meminta restu pada kedua orang tuaku. Kupikir dia memang sedang bercanda. Tapi kudengar suaranya begitu serius. Astaga, aku harus apa?

Saat kedua orang tuaku sudah tiba di rumah, beberapa hari setelahnya aku mencoba berbicara mengenai itu. Awalnya ibu tertawa menganggap semua celotehanku itu hanya bercandaan. Saat aku perjelas dan kukatakan bahwa dia akan hadir ke sini. Ibu langsung berubah ekspresi. Seketika aku dianggap ingin menikah dengannya. Dan itu membuat ibuku tidak ingin menerima semua itu. Aku berulang kali bilang bahwa aku hanya ingin bercerita, bukan meminta izin. Tapi yang kudapat adalah omelan dan nasihat-nasihat yang menyudutkanku. Apa aku bercerita adalah tanda aku meminta izin menikah? Tidak, aku hanya mencoba terbuka dengan berbicara hal ini. Setidaknya kedua orang tuaku harus tahu bahwa aku bukan lagi anak kecil perempuan mereka. Meskipun aku tahu, bagi mereka aku masihlah anak kecil perempuan mereka.

#ts

Diposkan pada Catatan

Sajak Delapan Larik

Malam ini tidak sama dengan malam-malam yang lalu. Seperti saat aku tengah tersenyum menatapmu dalam bayang menjelang tidur. Kepada bulan yang tengah benderang di gelapnya malam, aku mengadu. Sajakku kembali hadir mengisi halaman baru. Aku tak tahu kenapa aku menulisnya lagi. Bahkan aku tak tahu apa yang tengah aku tulis. Aku hanya menulisnya, lebih tepatnya aku mengadu pada bulan. Kusampaikan sajakku yang delapan larik dengan mengukuhkan rasa di hati. Lalu kulipat sajak yang kutulis itu, kemudian menerbangkannya ke bulan. Kuharap bulan membacanya.

Kutatap bulan dengan mata berbinar. Mungkin bulan mengira aku mengharapkannya, memang seperti itu. Tapi, aku berbinar karena air mataku sudah tak mampu kubendung. Aku butuh balasan atas aduanku. Aku menantikannya.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba ada satu bintang yang dekat dengan bulan tengah berpendar. Apakah itu sebagai jawaban bahwa dia sudah membaca sajakku? Tapi, kenapa bintang yang memberi sinyal? Kenapa bukan bulan?

Aku tidak lagi memikirkan hal konyol itu. Dalam gamang aku masuk ke kamar, menutup jendela yang sedari tadi kubuka hanya demi melihat bulan dan mengadu.

Gawaiku menyala, sebuah telepon masuk darimu. Aku diam sejenak, menimang-nimang. Otakku menceracau tak jelas. Mengabaikan pikiranku yang semakin tak jelas, kuangkat telepon darimu.

Suara meneduhkan terdengar di satu kata saat kudekatkan gawai ke telinga. Tiba-tiba pecah begitu saja pikiran yang menceracau tak jelas itu. Aku terpaku untuk kesekian kali. Lidahku kelu untuk menjawab perkataanmu. Tanpa lebih penasaran kamu ingin dengar suaraku, kamu melanjutkan perkataanmu.

“Sepertinya aku tidak bisa datang.” Kalimat sederhana itu membuatku agak hilang keseimbangan. Tanpa kusadari, air mataku berderai keluar.

Dan tiba-tiba saja suaramu mendadak menghilang begitu saja. Aku sudah tidak lagi mendengar suaramu yang meneduhkan. Padahal kamu tengah melanjutkan pembicaraanmu. Entah kenapa otakku membeku. Tanganku lemas dan kuletakkan gawaiku di kasur begitu saja. Dengan langkah berat aku berjalan mengarah ke jendela. Kubuka jendela dengan pelan, kutatap lagi bulan yang masih benderang. Air mataku semakin berderai, sesenggukkan aku menangis.

Setiap depa yang kulalui

Kuingat hembusan napasmu

Suaramu menghangatkan

Bahkan bayangmu masih jelas kulihat

Berkilo-kilo mil kita berpisah

Masih bisakah kita mengukung rindu

Menyampaikan bahagia bertemu

Dan aku menunggumu

Begitulah bunyi sajakku, yang terjatuh entah di mana. Tanpa jejak. Tanpa dibaca. Dan tanpa balasan.

Kutatap bulan, dan bintang yang ada didekatnya pun berpendar (lagi).

Diposkan pada Catatan

Opini untuk Puisi Esai

Siapa yang enggak tahu tentang Puisi Esai? Hampir sastrawan mengetahui hal ini. Puisi Esai salah satu terobosan yang dicanangkan oleh Denny JA sebagai aliran puisi baru. Tapi ternyata, kelahiran puisi ini menuai kontroversi.

Sebelum saya menilai puisi esai, saya harus tahu dan pahami sejarah puisi esai. Tidak baik rasanya menilai tanpa mengenalinya terlebih dahulu.

Sejatinya, sudah seperti yang kita ketahui puisi dari dulu sampai sekarang mengalami perbedaan gaya, aliran, bahkan topografi/perwajahan puisi. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya keadaan yang harus mengubahnya. Maksudnya, setiap angkatan puisi selalu berubah karena kebutuhan zaman.

Seperti yang kita ketahui, angkatan puisi lama merupakan bentuk syair dan gurindam yang bersenandung. Karena orang Melayu memang suka melakukan hal itu untuk bercengkerama dengan kawan atau sekadar bercerita kepada orang tentang fantastis dan istanasentris. Angkatan puisi baru, isinya mengenai kehidupan dan sudah berkembang secara lisan juga tulisan. Angkatan puisi modern sudah tidak terikat lagi dengan aturan persajakan dan lebih mengutamakan isi puisi. Angkatan puisi kontemporer merupakan pembaruan dari setiap puisi yang sudah ada, topografi puisi sudah dibuat sebebas mungkin oleh pengarangnya tapi isinya harus tersampaikan. Hal ini terjadi sampai saat ini, seperti yang kita temui pola-pola puisi dari beberapa pengarang. Semua angkatan itu mengalami perubahan karena zaman yang menghendaki.

Kemudian kita akan bicarakan mengenai puisi esai. Puisi esai adalah puisi yang menggabungkan fiksi dan fakta. Fiksinya merupakan baris dan baitnya. Faktanya merupakan catatan kaki di setiap puisinya. Puisi esai menulis kisah fakta dari masyarakat yang kemudian dipuisikan. Dan puisi esai boleh dilakukan oleh semua kalangan, bukan hanya penulis/pengarang.

Saya mencoba membantah, sekali lagi ini hanyalah opini saya.

1. Puisi dan esai adalah karya sastra. Namun, dari dulu puisi dan esai sudah terpisahkan dengan jalur fiksi dan non fiksi. Lalu kenapa disatukan? Sudah jelas kita ketahui, puisi adalah keindahan diksi, topografi, dan pesan. Sedang esai adalah bentuk opini seseorang pada suatu peristiwa hal yang nyata dan esai sudah punya pola terstrukturnya. Puisi memang bisa mengangkat kejadian nyata, namun jika sudah puisi ya puisi yang berarti tetap fiksi dan tidak bisa di-nonfiksikan. Lalu puisi esai itu termasuk fiksi atau non fiksi? Apakah termasuk fiksi dan non fiksi? Bisakah disatukan? Mungkin suatu hari nanti akan muncul kelahiran esai puisi, jadi esainya berpuisi.

2. Memang zaman sekarang penulis/pengarang saja yang boleh menulis puisi? Yang saya tahu, banyak orang-orang di luar sana yang menikmati puisi lalu membuat puisi sendiri sebagai apresiasi padahal mereka bukan penulis/pengarang. Dan puisi esai mencanangkan bahwa puisi yang mereka adakan bukan hanya untuk penulis/pengarang tapi untuk semua kalangan. Lalu bedanya di mana dengan puisi sekarang? Kenapa harus ada pembaruan jika tujuannya memang sudah terlaksana saat ini?

3. Anak muda sekarang merasa sulit dengan puisi saat ini karena terkesan sulit dipahami. Tapi yang saya tahu, banyak di luar sana, anak-anak muda tanggung tengah merayu gebetannya dengan berpuisi juga lho. Itu bukan masuk hitungan kah?

Sekian dari saya, lebih kurangnya mohon maaf. Saya hanya menyampaikan opini saya. Jika tidak suka, silakan bicara dengan saya.

#ReadingChallengeODOP

#ONEDAYONEPOST

#Level3

#Tantangan2

Diposkan pada Catatan

Pengasingan

Cerita ini adalah fiktif yang sengaja diambil dari kisah Soewardi Soerjaningrat yang diasingkan di Belanda atas tindakannya menulis “Als ik eens Nederlander was.” yang dianggap menghina Belanda.

Malam itu salju turun menyelimuti negeri Nederland, tepat kapal yang membawa ketiga serangkai dan keluarganya tiba. Mereka melangkahkan kaki menuju peraduan dalam keadaan kedinginan dan hanya berselimutkan mantel yang tidak terlalu tebal. Anak-anak mereka yang masih kecil mengeluh karena musim ekstrim yang belum pernah mereka rasakan.

“Sabar, Nak. Sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Soewardi kepada anak-anaknya sambil memberikan senyum terbaiknya.

“Seharusnya aku memberi tahu kalian kalau bulan ini sudah memasuki musim dingin. Maafkan aku kawan,” sesal Dekker menatap kedua temannya.

Tjipto tersenyum, “Tak apalah, Bung. Tak sempat pula kalau kau kirim surat kepada kami.”

Ketiga serangkai itu mengangguk takzim. Mereka diasingkan di Belanda karena ulah mereka mengkritik kolonialisme Belanda di tanah air. Tapi, mereka tidak merasa menyesal, justru mereka bahagia telah melakukan semua itu.

Di bawah butiran salju yang selalu turun, mereka bercengkerama santai seakan mengabaikan hawa dingin yang sebentar lagi membekukan mereka.

#

Sudah beberapa hari selama pengasingan, Soewardi dan keluarga mengalami kekrisisan ekonomi. Biaya hidup di Belanda ternyata jauh lebih mahal, uang tabungan dan uang dari bekal teman-teman tanah air sudah mulai menipis.

“Kang Mas, maaf makanan kita hanya ini saja,” ucap sang istri kepada Soewardi.

Soewardi menghela napas pelan, “Tak apa, Dinda. Kita memang harus menghemat karena uang kita menipis.”

Sang istri tersenyum memahami, lalu dengan sigap mengambil centong nasi dan siap menaruh setumpuk nasi ke piring suaminya.

“Kang Mas, boleh aku melamar ke sekolah anak di sini?” tanya sang istri dengan hati-hati barangkali suaminya akan merasa sakit hati.

Soewardi berhenti dari aktivitas makannya dan menatap dalam sang istri, “Tentu saja, Dinda. Itu adalah keahlianmu dan kesukaanmu. Aku akan senang melihatmu bahagia.”

“Terima kasih, Kang Mas!” seru sang istri menghambur kepelukan Soewardi seperti anak yang diberikan mainan baru.

#

Soewardi merenung di jendela kamarnya, terdiam menatap lalu lalang orang Belanda yang tengah sibuk di pagi ini. Setelah istrinya pergi memutuskan melamar ke sekolah anak pagi ini, Soewardi merenung di balik meja kecilnya.

Soewardi menulis semua gagasannya ke kertas putih dengan tinta hitam bekal dari tanah air. Dia memang diasingkan tapi pikirannya tidak bisa diasingkan.

#

Setelah sang istri diterima mengajar di sekolah anak, Soewardi kembali ke fitrahnya menjadi penulis di koran. Bukan hanya Soewardi, kedua temannya Tjipto dan Dekker pun turut andil dalam hal jurnalistik. Bahkan mereka bertiga memberikan ceramah pada pelajar Indonesia di Belanda. Mereka memberikan situasi Indonesia saat ini di bawah penjajah kolonial Belanda. Para pelajar sangat tertarik dengan informasi itu dan bersiap berjuang dari negeri Belanda.

#

Semakin lama, ketiga serangkai melejitkan namanya di Belanda, mereka membuat majalah. Namun, perjalanan mereka tidak semulus itu. Ada saja majalah dari Belanda yang melakukan penyerangan karena tidak menyukai majalah ketiga serangkai. Tapi, ketiga serangkai tetap berpendirian kuat menahan itu semua sehingga majalah yang mereka embankan masih bersinar.

Mereka bertiga memang diasingkan. Tapi pikiran, semangat, dan juang mereka tidak pernah bisa diasingkan.

#TugasRCO2Level2

#ReadingChallengeODOP

#ONEDAYONEPOST

#Cerpen

Diposkan pada Catatan

Biografi Singkat Ki Hadjar Dewantara

Soewardi Soerjaningrat lahir pada hari Kamis Legi, tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Soewardi Soerjaningrat adalah keturunan bangsawan Paku Alam III.

Pada 6 September 1912, Soewardi Soerjaningrat masuk menjadi anggota “Indische Partij” bersama Dr. E. F. E. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.

Soewardi Soerjaningrat menentang keras perayaan ulang tahun Belanda yang mengharuskan rakyat Indonesia dimintai dana dan turut hadir dalam perayaan tersebut. Baginya, itu adalah semacam penghinaan karena posisi rakyat Indonesia adalah sebagai orang yang dijajah tapi disuruh untuk ikut hadir perayaan ulang tahun penjajahnya. Soewardi Soerjaningrat menulis risalah “Als ik eens Nederlander was” (Andai aku seorang Belanda) yang setelah diterbitkan mendapat apresiasi dari rakyat. Kemudian dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menulis “Kracht of Vrees?” (Kekuatan atau Ketakutan) sebagai menentang Belanda yang tengah menjatuhi hukuman ke Soewardi Soerjaningrat karena tulisannya dianggap menghina Belanda. Untuk kali kedua, Soewardi Soerjaningrat menulis “Een voor Allen, maar ook Allen voor Een” (Satu buat semua, tetapi juga semua buat satu). Dr. E. F. E. Douwes Dekker pun menulis “Onze Helden Tjipto Mangoenkoesoemo en R. M. Soewardi Soerjaningrat.” (Pahlawan-pahlawan kita Tjipto Mangoenkoesoemo dan R. M. Soewardi Soerjaningrat sebagai bentuk pujiannya kepada kedua orang itu. Karena mereka bertiga dianggap meresahkan masyarakat oleh Belanda, maka mereka pun dijatuhi hukuman penjara. Mereka bertiga memilih diasingkan di Belanda.

Pada Agustus 1920, Soewardi Soerjaningrat yang sedang menjalani hukuman penjara di Pekalongan diizinkan menjenguk istrinya yang sakit pendarahan berat karena melahirkan putra ketiga. R. Ay. Sutartinah mengingatkan atas gagasan Soewardi Soerjaningrat yang pernah disampaikan kepada K. H. Ahmad Dahlan di Semarang (1919), bahwa harus ada suatu perguruan nasional yang mendidik kader-kader perjuangan untuk menentang penjajah. Setelah mendengar itu, Soewardi Soerjaningrat bersemangat dan mendapat ilham yang akan dilakukannya saat keluar dari penjara.

Pada Senin Kliwon, 3 Juli 1922 Soewardi Soerjaningrat dkk mendirikan “Nationaal Ondeewijs Instituut Taman Siswa.” di Jl. Tanjung, Pakualaman, Yogyakarta, membuka bagian Taman Anak atau Taman Lare setingkat Taman Kanak-Kanak (Taman Indria). Pada tanggal 7 Juli 1924 mendirikan Mulo Kweekshool setingkat SMP. Pada tahun 1928 tamatan Mulo Kweekshool dapat masuk AMS (Algemene Middelbare School) setingkat SMA.

Pada 3 Februari 1928, Soewardi Soerjaningrat genap berusia 40 tahun menurut tarikh Jawa (5 windu) dan berganti nama Ki Hadjar Dewantara. Menurut Ki Utomo Darmadi, Hadjar: pendidik, Dewan: utusan, tara: tak tertandingi. Jadi, maknanya: Ki Hadjar Dewantara adalah bapak pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme.

Soewardi Soerjaningrat wafat tanggal 26 April 1959 di Padepokan Ki Hadjar Dewantara dan disemayamkan di Pendapa Agung Tamansiswa Yogyakarta.

Semua benda bersejarah, buku, surat, penghargaan, dan barang-barang perabot rumah tangga peninggalan Ki Hadjar Dewantara kini tersimpan di Museum “Dewantara Kirti Griya” Jl. Tamansiswa No. 25 Yogyakarta.

#TugasRCO1Level2

#ReadingChallengeODOP

#ONEDAYONEPOST

#BiografiSingkat

Diposkan pada Catatan

Resensi: Sabdo Cinta Angon Kasih

A. Identitas Buku

Judul: Sabdo Cinta Angon Kasih

Penulis: Sujiwo Tejo

Penerbit: PT Bentang Pustaka

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: viii + 252 hlm

B. Sinopsis

Kisah ini diawali oleh tokoh Sabdo Palon dan Budak Angon yang tengah mendongeng tentang kebudayaan pada masyarakat. Hadir pula Mbok Jamu, Ki Amongraga, dan Ong King Hong sebagai pelengkap cerita. Sabdo Palon, Budak Angon, dan Ong King Hong berebut tentang masa depan Mbok Jamu sebagai titisan siapa. Di sini banyak disuguhkan pula kritikan terhadap pemerintahan dan pola pikir masyarakat saat ini secara tidak langsung. Cerita ini lebih tepatnya kumpulan cerpen yang saling berkaitan. Cerita ini juga tidak perlu dibaca terlalu serius, karena pengarang memberikan cerita jenaka yang dikaitkan dengan kritikannya.

C. Analisis

* Konteks Sosial Pengarang

Pengarang selain menjadi penulis ternyata beliau adalah seorang dalang. Kesukaannya terhadap budaya sosial mengantarkan beliau menjadi pengamat budaya di masyarakat sekarang. Seperti yang kita tahu, budaya masyarakat sekarang banyak isu yang menjadikan polemik. Sehingga pengarang mencurahkan kritikannya melalui karya-karyanya.

*Masyarakat dalam Kehidupan Bersosial

Di cerita ini, dikisahkan beragam elemen masyarakat yang bercengkerama dengan kehidupan sosial. Kita semakin tahu dan melek bahwa kehidupan sosial di masyarakat menjadi perhatian penting dalam menjaga keharmonisan di dalam masyarakat. Jangan sampai kesalahpahaman dan salah persepsi menjadi bumerang di masyarakat.

*Masyarakat dalam Berpolitik

Hal yang paling sensitif adalah dibahasnya mengenai perpolitikan pada masa sekarang. Beragam kritikan dilontarkan melalui kisah-kisah tokoh para wayang yang ditulisnya.

*Masyarakat dalam Pemerintahan

Sindiran halus juga dituangkan dalam beberapa fenomena yang tengah viral di Indonesia. Isu-isu bahkan kejadian yang sebenarnya ditulis apik dengan sentuhan cerita yang dipautkan fenomena hal itu.

D. Evaluasi

Kekurangan:

– Terlalu banyak tokoh wayang yang banyak belum dipahami

– Membaca buku ini setidaknya harus tahu mengenai sejarah perwayangan

Kelebihan:

– Tulisan satire yang dituangkan dalam cerita jenaka

– Berbagai isu disuguhkan sehingga menambah pengetahuan dan menjadi acuan untuk cara menanggapinya